Gambar oleh: cnnindonesia.com

TINKAP – Kaum perempuan patut waspada dan tidak boleh menganggap remeh sinyal kelelahan fisik yang dirasakan sehari-hari. Grafik penderita penyakit autoimun di kalangan wanita usia reproduksi tercatat terus mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru berbalik menyerang organ vital, nyawa pun bisa menjadi taruhannya.

Lantas, apa sebenarnya pemicu utama di balik "perang saudara" di dalam tubuh ini, dan bagaimana cara meredamnya sebelum terlambat?

Ketika Sel Tubuh Berbalik Menjadi Musuh

Penyakit autoimun bukanlah kondisi sepele. Ketika sel imun salah mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman, organ tubuh mana pun, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hingga hati, bisa menjadi sasaran empuk kerusakan.

Kerentanan yang jauh lebih tinggi pada perempuan ini menarik perhatian para akademisi. Berdasarkan rilis resmi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dilansir pada Selasa, 21 Juli 2026, faktor psikologis terbukti memegang peranan yang sangat dominan dalam memicu kekambuhan penyakit ini.

Pakar kesehatan dari UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD., KR., membeberkan bahwa stres menduduki peringkat atas sebagai pemicu utama yang memperparah kondisi pasien autoimun.

"Pemicu kedua adalah stres. Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," tegas dr. Nyoman sebagaimana dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (21/07/2026).

Manajemen Stres

Selain faktor stres, kelelahan fisik yang dipaksakan serta paparan sinar matahari yang berlebihan juga menjadi pemicu krusial yang harus dihindari oleh para pasien. Pengobatan medis menggunakan obat kimia penekan imun memang diperlukan, namun sering kali mendatangkan efek samping jangka panjang.

Oleh karena itu, pakar UGM menegaskan bahwa manajemen stres yang baik adalah kunci mutlak agar penderita bisa kembali hidup normal tanpa dibayangi rasa sakit yang konstan.

"Oleh karena itu, aktivitas sehari-hari harus memiliki batas. Misalnya, menjaga jam tidur dan tidak memaksakan diri bekerja hingga kelelahan," pesan dr. Nyoman dalam ulasan pakar yang dirilis oleh Universitas Gadjah Mada pada Selasa, 21 Juli 2026.

Jangan Tunggu Tubuh Anda Mogok Total

Bagi para wanita yang aktif dan sering mengabaikan waktu istirahat demi tuntutan pekerjaan atau rutinitas harian, sudah saatnya Anda mengerem laju aktivitas. Mulailah mengelola pikiran, hindari beban stres berlebih, serta terapkan pola hidup bersih dan sehat dengan menjauhi rokok serta alkohol.

Jangan biarkan tubuh Anda hancur perlahan akibat ketidaktahuan Anda sendiri. Masih berani mengabaikan sinyal lelah dari tubuh Anda hari ini?

Tetap jaga kesehatan dan temukan berbagai ulasan medis mendalam lainnya hanya di www.tinkap.com.