![]() |
| Gambar oleh: mamasewa.com |
JAKARTA,
TINKAP – Menjadi seorang
ibu baru sering kali digambarkan sebagai momen paling membahagiakan dalam
hidup. Namun di balik senyuman dan foto-foto manis bersama bayi di media
sosial, tersimpan realita kelam yang jarang dibicarakan: jurang kecemasan,
kelelahan fisik kronis, hingga ancaman depresi pascapersalinan.
Pertanyaannya,
sudahkah Anda benar-benar hadir sebagai teman yang bisa diandalkan, atau justru
menjadi bagian dari beban pikiran mereka?
Jebakan
"Ibu Bahagia" yang Menyiksa Mental
Banyak orang
mengira ibu yang baru melahirkan hanya butuh diberi ucapan selamat dan
dibiarkan merawat bayinya sendiri. Padahal, perubahan hormon yang drastis
dipadu dengan kurang tidur kronis membuat kondisi psikologis mereka sangat
rentan.
Dalam ulasan
kesehatan yang dilansir dari Primaya Hospital pada Jumat, 12 Juni 2026,
ditegaskan bahwa kehadiran dukungan sosial memiliki peran krusial bagi
keselamatan mental seorang ibu baru.
"Dukungan
keluarga dan orang terdekat bukan hanya membantu pekerjaan rumah, tetapi juga
memberikan ruang bagi ibu untuk mengekspresikan perasaannya tanpa dihakimi.
Kesehatan mental ibu nifas sama pentingnya dengan kesehatan fisiknya karena
menjadi pondasi keharmonisan keluarga dan tumbuh kembang anak jangka
panjang," jelas ulasan medis yang dirilis oleh Primaya Hospital (12/06/2026).
Jangan Cuma
Menjenguk, Berikan Aksi Nyata!
Sebagai sahabat
atau orang terdekat, kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah datang
berkunjung hanya untuk "menengok bayi" tanpa menawarkan bantuan nyata
kepada sang ibu. Padahal, tenaga mereka terkuras habis untuk menyusui dan
menenangkan bayi yang menangis.
Mengutip panduan
kesehatan mental ibu nifas dari Alodokter yang diterbitkan pada Selasa,
23 Juli 2024, bertukar pikiran atau sekadar mendengarkan keluh kesah tanpa
menghakimi mampu menyelamatkan seorang ibu dari sindrom baby blues.
"Bertukar
pikiran dengan sesama ibu atau teman yang mampu memahami beban seorang ibu
kemungkinan dapat membantu pemulihan kondisi ini. Sebagian penderita baby
blues kerap bersikap gelisah, tidak sabar, lekas marah, atau menangis tanpa
alasan yang jelas," tulis tim redaksi Alodokter dalam rubrik
kesehatannya (23/07/2024).
Trik Menjadi
Teman yang Diandalkan
Jika Anda ingin
benar-benar menjadi penyelamat bagi teman yang baru melahirkan, hentikan
kebiasaan melontarkan pertanyaan basa-basi yang membebani. Lakukan langkah
konkrit berikut:
- Jangan
Hanya Bertanya, Langsung Bertindak: Alih-alih berkata "Ada yang
bisa dibantu?", langsung tawarkan untuk membawakan makanan siap
santap atau membantu mencuci pakaian.
- Jadi
Pendengar Tanpa Menghakimi: Biarkan ia menangis atau menceritakan
kelelahannya tanpa Anda gurui dengan kalimat "Dulu zamanku tidak
begitu."
- Beri
Ruang Istirahat: Bantu pegang bayi sebentar saja agar sang ibu bisa
tidur lelap barang 1 atau 2 jam.
Jangan tunggu
teman Anda ambruk secara mental baru Anda sibuk mencari alasan. Perhatian kecil
Anda hari ini adalah benteng pertahanan bagi nyawa dan kewarasan seorang ibu
baru.


