![]() |
| Gambar oleh: Pixabay |
LONDON, TINKAP – Sebuah peringatan keras bagi para
orang tua mengenai pola makan anak muncul dari laporan kasus kesehatan yang
mengejutkan. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun di Inggris dilaporkan
mengalami kebutaan permanen akibat kekurangan nutrisi ekstrem yang disebabkan
oleh pola makan yang hanya mengandalkan junk food sejak masa
kanak-kanak.
Pola Makan yang Menghancurkan Penglihatan
Remaja tersebut dilaporkan memiliki kebiasaan makan yang
sangat terbatas, yakni hanya mengonsumsi keripik kentang, sosis, daging olahan,
dan roti putih sejak usia dini. Karena tidak adanya asupan nutrisi yang cukup,
ia mengalami kondisi yang dikenal secara medis sebagai Nutritional Optic
Neuropathy (NON) atau neuropati optik nutrisi.
Kondisi ini menyebabkan saraf optik yang menghubungkan mata
ke otak mengalami kerusakan ireversibel. Meski sempat menjalani perawatan
medis, dokter menyatakan bahwa kerusakan saraf tersebut sudah bersifat permanen
dan tidak dapat diperbaiki.
Penjelasan Medis: Kekurangan Vitamin Vital
Pakar kesehatan yang menangani kasus ini menjelaskan bahwa
kekurangan vitamin B12, tembaga, selenium, dan vitamin D yang parah menjadi
pemicu utama matinya saraf optik remaja tersebut.
"Gejala awal yang dialami pasien adalah penglihatan
yang memburuk secara bertahap. Jika
nutrisi ini tidak segera dipenuhi dalam waktu lama, saraf optik akan mulai mati
secara permanen. Pola makan yang hanya mengandalkan makanan olahan tanpa
nutrisi mikronutrien adalah penyebab utama kerusakan ini," ujar dr. Denize
Atan, seorang spesialis mata di Bristol Eye Hospital, sebagaimana dikutip dari
laporan BBC News.
Peringatan
bagi Orang Tua
Ahli gizi dari British
Dietetic Association, Dr. Catherine Collins, menambahkan bahwa kasus ini
harus menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa junk food bukan hanya
memicu obesitas, tetapi juga dapat merusak fungsi organ tubuh secara fatal.
"Nutrisi
yang buruk bukan hanya masalah berat badan, melainkan masalah kesehatan
seluler. Kita harus mendidik anak-anak bahwa makanan bukan sekadar pengisi
perut, tetapi bahan bakar untuk fungsi otak dan mata. Kasus ini sangat jarang
namun menjadi pengingat tragis tentang konsekuensi diet yang buruk," tegas
Dr. Catherine Collins sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Pihak keluarga
menyatakan bahwa remaja tersebut saat ini sedang menjalani terapi rehabilitasi
untuk beradaptasi dengan kondisi kebutaannya. Kasus ini kini menjadi bahan
diskusi global di dunia medis mengenai pentingnya edukasi gizi sedini mungkin
untuk mencegah efek jangka panjang yang merusak kualitas hidup generasi muda.


