Gambar oleh: eljohn.media


JAKARTA, TINKAP – Di tengah riuhnya isu ekonomi dan geopolitik global, publik tanah air kembali dihentakkan oleh manuver mengejutkan dari Istana. Presiden Prabowo Subianto secara mendadak menginisiasi pembentukan institusi pendidikan raksasa bertajuk "Universitas Republik Indonesia" (URI).

 

Langkah tak terduga ini sontak memicu badai pertanyaan di tengah masyarakat dan kalangan akademisi. Apa sebenarnya urgensi mendirikan universitas pelat merah berskala masif di saat kampus-kampus negeri yang sudah ada (seperti UI, UGM, atau ITB) masih berjuang dengan isu komersialisasi UKT? Benarkah ini murni demi kemajuan pendidikan, atau ada "grand design" alias agenda politik terselubung untuk mencetak loyalis negara?

 

Urgensi Kampus Super: Benteng Pertahanan Intelektual atau Ambisi Mercusuar?

 

Pemerintah mengklaim bahwa pendirian Universitas Republik Indonesia bukanlah proyek sembarangan, melainkan jawaban atas krisis kepemimpinan dan ketahanan nasional di masa depan. URI dikonsepkan sebagai kawah candradimuka bagi putra-putri terbaik bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa patriotisme tingkat tinggi.

 

Dilansir dari Tempo.co pada Selasa, 21 Juli 2026, pihak Istana Kepresidenan menegaskan bahwa urgensi utama dari kampus ini adalah untuk menjawab tantangan hilirisasi industri dan pertahanan semesta yang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) super-spesifik.

 

"Presiden melihat adanya kekosongan dalam sistem pendidikan tinggi kita saat ini terkait pemenuhan SDM strategis untuk ketahanan negara, tata kelola pemerintahan tingkat lanjut, dan kemandirian teknologi. Universitas Republik Indonesia didirikan dengan urgensi untuk mencetak elite strategis yang 100 persen mengabdi untuk kepentingan nasional, bukan sekadar mencetak pekerja pabrik," ujar juru bicara kepresidenan dalam keterangan persnya yang dikutip dari Tempo.co (21/07/2026).

 

Pakar Pendidikan Menggugat: Ini Pemborosan Anggaran yang Berbahaya!

 

Namun, narasi megah yang dibangun oleh pemerintah rupanya tidak langsung ditelan mentah-mentah oleh para pengamat. Rencana pembentukan Universitas Republik Indonesia justru memicu kritik tajam terkait tumpang tindih kewenangan dan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 

Mengutip laporan mendalam dari Kompas.com yang terbit pada Rabu, 22 Juli 2026, sejumlah pakar pendidikan tinggi mewanti-wanti potensi pemborosan triliunan rupiah untuk infrastruktur baru yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk menyuntik dana riset di kampus-kampus eksisting.

 

"Urgensinya sangat patut dipertanyakan. Jika tujuannya mencetak SDM strategis, mengapa tidak memperkuat Universitas Pertahanan (Unhan) atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)? Membangun universitas baru berskala raksasa di tengah ketidakpastian ekonomi adalah bentuk inefisiensi. Ada kekhawatiran juga bahwa kampus ini nantinya hanya menjadi alat indoktrinasi ideologi penguasa," kritik tajam seorang Pengamat Kebijakan Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, sebagaimana dilansir oleh Kompas.com (22/07/2026).

 

Apa Saja Jurusan Misterius di URI Nanti?

 

Berdasarkan draf awal yang beredar luas, kampus ini kabarnya tidak akan membuka program studi konvensional. Berikut adalah fokus utama yang kabarnya akan menjadi tulang punggung Universitas Republik Indonesia:

  • Fakultas Ketahanan Pangan dan Energi: Fokus pada kemandirian logistik nasional.
  • Fakultas Geopolitik dan Intelijen Strategis: Mencetak analis pertahanan global.
  • Fakultas Rekayasa Teknologi Hilirisasi: Menjawab ambisi pengolahan sumber daya alam (SDA) secara mandiri.

 

Di atas kertas, visi ini terdengar sangat menjanjikan dan patriotik. Namun, mampukah proyek triliunan rupiah ini benar-benar berjalan sesuai rencana tanpa menjadi ladang baru praktik korupsi atau sekadar monumen politik belaka?

 

Waktu yang akan menjawab, apakah Universitas Republik Indonesia akan menjadi mercusuar peradaban bangsa, atau justru layu sebelum berkembang.