Gambar oleh: kompas.com


JAKARTA, TINKAP – Fenomena kepala daerah yang bergantian mengenakan rompi oranye Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seolah sudah menjadi tradisi tahunan yang memuakkan di Indonesia. Meski sudah banyak yang tumbang, kursi empuk kekuasaan tetap saja menjadi magnet bagi praktik culas. Kali ini, Tim Koordinasi Percepatan Pemberantasan Korupsi (TKPK) akhirnya buka-bukaan mengenai akar masalah yang membuat para pejabat kita tak kunjung insaf.

 

Apakah ini murni keserakahan, atau sistem demokrasi kita yang memang sakit sejak dalam kandungan?

 

Modal Politik Selangit, Rakyat yang Menanggung Beban

 

TKPK menyoroti bahwa salah satu pemicu utama korupsi adalah mahalnya biaya politik yang harus dikeluarkan seorang calon kepala daerah untuk memenangkan kontestasi. Biaya kampanye, mahar partai, hingga kebutuhan operasional selama masa pemilihan mencapai angka yang fantastis, jauh melampaui gaji resmi yang mereka terima.

 

"Sistem politik kita menciptakan jebakan di mana calon kepala daerah harus mengeluarkan modal besar. Begitu terpilih, prioritas pertama mereka bukan lagi melayani rakyat, melainkan bagaimana mengembalikan modal (balik modal) secepat mungkin," ungkap narasumber dari jajaran pengurus TKPK sebagaimana dilansir dari Tempo.co.

 

Kritik Tajam: Demokrasi yang Dijual-Beli

 

Dibalik pernyataan tersebut, terdapat realita kelam yang patut dikritik tajam. Berdasarkan data yang dihimpun, mayoritas korupsi kepala daerah berkaitan dengan sektor perizinan dan pengadaan barang/jasa.


  • Sistem yang Cacat: Demokrasi di Indonesia telah berubah menjadi demokrasi prosedural yang sangat transaksional, di mana suara rakyat sering kali hanya dibeli dengan uang receh saat pemilu, namun dampaknya adalah kebijakan yang digadaikan kepada para investor atau cukong.
  • Lemahnya Pengawasan: KPK mencatat bahwa sistem pengawasan internal (Inspektorat) di daerah sering kali mandul karena berada di bawah kendali langsung kepala daerah.
  • Pengkhianatan Amanah: Mengutip dari laporan Kompas.id, data menunjukkan bahwa tidak sedikit kepala daerah yang terjerat korupsi adalah mereka yang awalnya berkampanye dengan slogan antikorup dan pro rakyat, sebuah ironi yang sangat menyakitkan bagi konstituen.

 

"Jika seorang kepala daerah menghabiskan puluhan miliar rupiah untuk menang, jangan heran jika setelah dilantik, mereka akan berkolaborasi dengan pengusaha hitam untuk mengeruk anggaran daerah. Ini adalah bentuk pengkhianatan paling telanjang terhadap mandat rakyat," tulis pengamat politik dalam ulasan kritisnya di Kompas.id.


Lingkaran Setan yang Tak Putus

 

Pernyataan TKPK ini seolah menjadi konfirmasi atas keresahan publik selama ini. Selama biaya politik tidak ditekan dan sistem pendanaan partai politik masih gelap, maka pabrik koruptor di daerah akan terus berproduksi.

 

Kepala daerah tidak hanya korupsi untuk memperkaya diri, tetapi seringkali karena terjerat hutang budi kepada para donatur yang membiayai ambisi kekuasaan mereka. Tanpa reformasi sistem pemilu dan integritas partai yang benar-benar dibenahi, penangkapan oleh KPK hanyalah sekadar vaksin yang tidak pernah bisa menyembuhkan penyakit kronis ini.

 

Siapa lagi yang akan menyusul masuk bui setelah ini? Dan sampai kapan rakyat harus terus menonton sandiwara hukum yang tak kunjung menyentuh akar masalah?