| Ilustrasi oleh Tim Tinkap. |
JAKARTA, TINKAP – Di tengah himpitan ekonomi yang
kian menekan, iming-iming bantuan pangan dari pemerintah selalu berhasil
menyedot perhatian jutaan warga. Namun, alih-alih mendatangkan kelegaan, lini
massa justru dihebohkan oleh maraknya gelombang informasi palsu yang siap
menjerat warga kurang mampu.
Hati-hati! Modus operandi penipuan berkedok pendaftaran
bantuan sosial (bansos) beras dan minyak goreng kini semakin merajalela di
berbagai platform digital. Hanya karena tergiur mengklik tautan atau menuliskan
komentar di media sosial, data pribadi Anda bisa dicuri dan disalahgunakan oleh
pihak tak bertanggung jawab.
Jebakan
Suka-Suka di Facebook: Dari Link Palsu hingga Komentar "Hadir"
Berdasarkan hasil
investigasi mendalam dan verifikasi fakta yang dilansir oleh portal berita Tempo.co
pada Selasa, 21 Juli 2026, jagat maya dihebohkan oleh sejumlah unggahan
menyesatkan di platform Facebook. Unggahan tersebut mengeklaim bahwa pemerintah
membuka pendaftaran khusus bagi masyarakat untuk mendapatkan bantuan beras
seberat lima hingga 40 kilogram serta paket minyak goreng dari Badan Urusan
Logistik (Bulog).
Namun, cara yang
digunakan para pelaku sungguh di luar nalar sehat. Berdasarkan laporan Tempo.co
(21/07/2026), terdapat berbagai macam modus penipuan yang disebar luaskan:
- Tautan Palsu: Sejumlah akun mengarahkan warganet
untuk mengeklik tautan eksternal mencurigakan di luar domain resmi milik
pemerintah.
- Nomor WhatsApp Pribadi: Akun lainnya meminta masyarakat
menghubungi nomor WhatsApp personal tertentu dengan dalih registrasi data
penerima.
- Komentar "Hadir": Modus klasik yang paling masif
adalah memancing warganet agar menuliskan kata “hadir” di kolom komentar
Facebook guna mendulang interaksi palsu sebelum diarahkan ke situs phishing.
"Keliru:
Pendaftaran Bansos Beras Lewat Tautan, WhatsApp, dan komentar di Facebook.
Tautan dan kontak WhatsApp yang tertera palsu," tegas laporan pemeriksaan
fakta Tempo.co yang dirilis pada Senin, 21 Juli 2026.
Modus
Pencurian Data (Phishing): Pemerintah Tidak Pernah Pakai WhatsApp
Pemerintah
melalui instansi terkait dan tim pemantau hoaks telah berulang kali melontarkan
peringatan keras kepada publik. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Jala
Hoaks Jakarta pada Selasa, 17 Maret 2026, modus pendaftaran bansos melalui
nomor WhatsApp pribadi dipastikan murni merupakan tindakan kejahatan phishing
atau upaya pencurian data pribadi.
Pemerintah tidak
pernah memungut biaya, meminta data sensitif melalui percakapan pribadi,
ataupun menggunakan nomor ponsel personal untuk program penyaluran bantuan
sosial resmi.
"Berdasarkan
hasil penelusuran Tim Jalahoaks diketahui bahwa informasi tersebut adalah tidak
benar. Pemerintah tidak pernah menggunakan nomor WhatsApp pribadi untuk program
bantuan resmi," tulis laporan Jala Hoaks Jakarta (17/03/2026).
Berdasarkan
regulasi resmi penyaluran bantuan sosial nasional, program prioritas seperti
Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), maupun
cadangan beras pemerintah disalurkan secara terpusat melalui Data Tunggal
Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai
keluarga miskin hingga rentan miskin (Desil 1-4) tidak perlu mendaftar lewat
komentar media sosial, melainkan melalui mekanisme verifikasi resmi atau
memastikannya secara mandiri.
Bagaimana Cara
Cek Bansos yang Benar?
Agar tidak
terjebak dalam lingkaran hitam penipuan siber, masyarakat diimbau untuk selalu
memeriksa keabsahan informasi melalui kanal resmi negara.
Apabila Anda
ingin memastikan status kepesertaan bantuan sosial, akseslah situs resmi yang
menggunakan domain akhir .go.id, seperti:
- Buka laman resmi cekbansos.kemensos.go.id.
- Masukkan data wilayah mulai dari
provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa/kelurahan sesuai Kartu
Tanda Penduduk (KTP).
- Masukkan
nama lengkap dan kode verifikasi (captcha) yang tersedia.
- Klik
tombol "Cari Data" untuk melihat status penerima secara
transparan.
Jangan biarkan
jempol Anda menjadi bumerang yang menyerahkan data pribadi kepada sindikat
penjahat siber. Tetap waspada dan jangan percaya pada tautan instan di media
sosial!

