Gambar oleh kompas.com


JAKARTA, TINKAP – Luka dan ceceran darah akibat bentrokan maut yang merenggut nyawa manusia di kawasan Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, belum sepenuhnya kering. Namun, teror kembali menghantui warga setempat ketika malam beranjak larut.

 

Alih-alih bisa beristirahat dengan tenang pascainsiden berdarah yang dipicu cekcok sepele urusan sepiring nasi uduk, warga perkampungan justru harus menjalani malam penuh mimpi buruk. Di bawah bayang-bayang ancaman serangan susulan, mereka terpaksa meronda jalanan demi melindungi keluarga tercinta.

 

Mencekam! Massa Bersenjata Parang dan Panah Datang Kepung Permukiman

 

Suasana tegang tersebut menyelimuti kawasan Jalan Tambak tatkala jarum jam menunjukkan pukul 00.00 WIB pada Senin dini hari, 27 Juli 2026. Ketakutan luar biasa dirasakan oleh para ibu rumah tangga yang kediamannya berada tepat di titik pusat bentrokan sehari sebelumnya.

 

Salah seorang warga setempat, Isnawati, menceritakan detik-detik mencekam saat dirinya tidak mampu memejamkan mata sepanjang malam. Rasa panik menghimpit dadanya karena sang anak dan suaminya masih berada di luar rumah ketika gelombang massa kembali mendatangi kawasan tersebut.

 

"Saya panik kan, enggak bisa tidur, takut ribut lagi. Kepikiran anak saya masih di luar, suami posisinya narik ojol dia belum pulang," ungkap Isnawati dengan nada cemas, sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.com pada Senin, 27 Juli 2026.

 

Isnawati menuturkan, massa yang diperkirakan berjumlah sekitar 50 orang itu bergerak secara berkelompok dari arah Flyover Pramuka dan Jalan Matraman menuju ke Jalan Tambak. Yang lebih mengerikan, gerombolan tersebut dikabarkan membawa berbagai senjata tajam siap bunuh.

 

"Tengah malam itu jam 12 malam tiba-tiba ramai lagi. Anak saya kan sama temennya di depan juga, dia ikutan di pos. Katanya pada bawa senjata. Ada yang bawa parang panjang-panjang, sama bawa panah, itu sama busurnya," beber Isnawati, seperti dikutip dari Kompas.com (27/07/2026).

 

Warga Kompak Turun Jalan: Kalau Bukan Kita yang Jaga, Siapa Lagi?

 

Kepanikan serupa dirasakan oleh warga lainnya. Jamal (34), salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa kelompok massa tersebut sempat kembali berkumpul di sekitar lokasi pasca-insiden tewasnya salah satu korban dalam bentrokan siang hari. Meski tidak melakukan pengrusakan fisik pada tengah malam tersebut, kehadiran massa yang melontarkan provokasi membuat tensi kembali memanas.

 

Sadar keselamatan kampung halaman mereka terancam, ratusan warga memilih untuk tidak tidur di dalam rumah dan bahu-membahu berjaga di sepanjang jalan.

 

"Itu warga enggak ada yang di dalam, semuanya di luar ngejagain. Namanya kita orang sini kan, kampung kita sendiri bang, kalau bukan kita yang jaga siapa lagi gitu," tutur Jamal dengan nada tegas, sebagaimana dilansir Kompas.com (27/07/2026).

 

Ketegangan di tengah malam itu akhirnya berhasil diredam setelah sirine kendaraan aparat kepolisian berdatangan ke lokasi untuk menghalau massa agar tidak merangsek masuk ke dalam perkampungan warga.

 

Aparat Siaga Penuh: Ratusan Personil Brimob Diterjunkan

 

Menanggapi eskalasi ancaman susulan yang meresahkan masyarakat ini, jajaran kepolisian tidak mau mengambil risiko. Hingga Senin pagi, 27 Juli 2026, puluhan hingga ratusan personel gabungan TNI-Polri dan Korps Brimob tampak bersiaga penuh di sepanjang Jalan Tambak dan Jalan Matraman Raya.

 

Sedikitnya delapan kendaraan taktis, mulai dari truk, bus aparat, hingga motor patroli, disiagakan di sekitar lokasi strategis guna memastikan situasi kembali kondusif dan mencegah jatuhnya korban jiwa susulan.

 

Sebelumnya, bentrokan maut yang pecah pada Minggu siang (26/07/2026) dipicu oleh persoalan sepele di sebuah warung nasi uduk, di mana terjadi kesalahpahaman antarpembeli yang berujung pada pengrusakan gerobak dan perkelahian massal antarkelompok yang menewaskan satu orang. Polisi sendiri telah mengamankan sejumlah orang untuk diperiksa secara intensif.

 

Sampai kapan teror dan dendam kesumat antarkelompok ini akan terus menghantui kedamaian warga ibu kota?