![]() |
| Gambar oleh: cnbcindonesia.com |
JAKARTA, TINKAP – Jagat media sosial kembali digegerkan dengan beredarnya sebuah video yang menampilkan visualisasi letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau di malam hari. Dalam narasi yang menyertai unggahan tersebut, disebutkan bahwa gunung berapi yang terletak di Selat Sunda itu sedang dalam fase erupsi hebat yang membahayakan wilayah sekitarnya.
Namun, setelah dilakukan penelusuran, dipastikan bahwa video
tersebut adalah informasi palsu atau hoaks. Pihak berwenang segera bergerak
cepat untuk meluruskan informasi yang terlanjur viral di platform seperti
TikTok dan WhatsApp tersebut.
Klarifikasi Resmi Pusat Vulkanologi
Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa aktivitas Gunung Anak
Krakatau hingga saat ini berada dalam tingkat pengawasan normal. Visualisasi
letusan hebat yang beredar tersebut dipastikan merupakan rekaman lama atau
hasil penyuntingan yang disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Petugas pemantau Gunung Anak Krakatau, Ahmad Zaenuri,
menyatakan bahwa kondisi di lapangan tidak menunjukkan adanya aktivitas erupsi
besar seperti yang dinarasikan dalam video tersebut.
"Video yang
beredar itu tidak benar. Kami memantau aktivitas gunung selama 24 jam penuh dan
kondisi saat ini masih dalam batas normal. Jangan mudah percaya dengan unggahan
yang tidak bersumber dari instansi resmi," tegas Ahmad sebagaimana dikutip
dari laporan Detik.com, Minggu (5/7/2026).
Bahaya Narasi
Menyesatkan
Fenomena hoaks
bencana alam seperti ini bukan kali pertama terjadi. Para ahli komunikasi
digital menilai bahwa narasi yang memicu kepanikan (fear-mongering) sering kali
digunakan untuk mengejar engagement atau jumlah tayangan semata di media
sosial.
Seorang pengamat
media digital dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Satria Bakti, memberikan
sorotan tajam terkait perilaku penyebaran konten ini.
"Masyarakat
kita masih sangat rentan terhadap informasi visual yang dramatis. Ketika
seseorang melihat gambar letusan yang besar, mereka cenderung langsung
membagikannya karena rasa cemas atau ingin memberi peringatan. Padahal,
tindakan tersebut justru memperkeruh suasana dan merugikan pihak-pihak di
sekitar lokasi bencana," ujar Prof. Satria sebagaimana dikutip dari Kompas.com,
Sabtu (4/7/2026).
Imbauan untuk Masyarakat
Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak mudah
terprovokasi oleh konten-konten yang belum terverifikasi kebenarannya. Untuk
mendapatkan informasi akurat terkait aktivitas vulkanik di Indonesia,
masyarakat disarankan untuk mengakses kanal resmi melalui:
- Situs
resmi PVMBG: vsi.esdm.go.id
- Aplikasi resmi: MAGMA Indonesia yang tersedia di
toko aplikasi.
- Media sosial resmi: Akun terverifikasi dari Badan
Geologi atau BNPB.
Penyebaran berita bohong terkait kebencanaan dapat dikenakan sanksi hukum sesuai dengan Undang-Undang ITE. Oleh karena itu, Tingkap mengajak seluruh pembaca untuk selalu melakukan saring sebelum berbagi, demi menjaga ketenangan dan keamanan bersama.

