DPR Kritik Bahlil Usai BBM Nonsubsidi Langka di SPBU Swasta

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.(tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi)

Tingkap — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU swasta seperti Shell, BP, dan Vivo menimbulkan sorotan tajam dari parlemen. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Haryadi, mengkritik kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang dinilai memicu terganggunya pasokan di lapangan.


Bambang menilai regulasi yang berubah-ubah terkait izin impor BBM membuat SPBU swasta kesulitan mengamankan stok. “Kebijakan yang tidak konsisten justru merugikan SPBU swasta dan berimbas langsung pada masyarakat. Ini harus segera dievaluasi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (19/9).


Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian ESDM memangkas skema izin impor BBM dari jangka waktu satu tahun menjadi lebih pendek, bahkan sempat dievaluasi setiap tiga bulan. Perubahan aturan ini dianggap mempersempit ruang perencanaan dan distribusi BBM oleh operator swasta.


Situasi ini menyebabkan sejumlah SPBU swasta kehabisan stok BBM nonsubsidi dalam beberapa pekan terakhir. Konsumen terpaksa berpindah ke SPBU Pertamina, menambah beban distribusi di tengah tingginya kebutuhan energi.


Menanggapi hal ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan bahwa kuota impor BBM untuk perusahaan swasta justru telah ditambah menjadi 110 persen dari tahun sebelumnya. Ia juga mendorong kolaborasi antara SPBU swasta dan Pertamina untuk menutup kekosongan pasokan.


Namun, Bambang menilai solusi itu belum menyentuh akar masalah. “Kolaborasi dengan Pertamina bisa jadi solusi sementara, tapi yang dibutuhkan adalah regulasi yang konsisten dan adil agar iklim usaha swasta tetap sehat,” katanya.


DPR mendesak pemerintah untuk segera menata ulang regulasi distribusi dan impor BBM agar kelangkaan di SPBU swasta tidak kembali terjadi, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap sektor energi nasional.(*)