Mengapa Kita Harus Percaya dan Membela Petani?

Ilustrasi oleh Tingkap

Petani bukan sekadar kelompok profesi—mereka adalah fondasi material sebuah bangsa. Namun nyatanya, kini pekerjaan itu makin terpinggirkan: lahan menyempit, konflik bertambah, dan kehidupan petani kian rapuh. Jika kita masih ragu kenapa petani layak dipercaya dan diperjuangkan, lihatlah angka-angka yang bicara.

 

Pertama, skala konflik agraria itu bukan kecil dan bukan insiden tunggal: sepanjang 2024 terjadi gelombang konflik yang menegaskan adanya krisis struktur penguasaan tanah. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat 295 letusan konflik agraria sepanjang 2024, yang menimpa lahan lebih dari satu juta hektare dan berdampak pada puluhan ribu keluarga. Angka ini menunjukkan bahwa perebutan akses atas tanah bukan persoalan lokal semata, melainkan masalah nasional yang sistemik.

 

Kedua, ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia ekstrem dan menambah urgensi pembelaan kita terhadap petani. KPA dan pengamatan media internasional mengutip statistik yang mengerikan: sekitar 1 persen populasi menguasai sekitar 68 persen lahan produktif. Ketika tanah terkonsentrasi demikian rupa, peluang petani kecil untuk bertahan kian menipis—mereka didorong ke pinggiran, diekspos pada risiko kehilangan penghidupan, atau dipaksa menjadi buruh di tanah sendiri.

 

Ketiga, kerentanan petani terlihat dalam struktur kepemilikan lahan: lebih dari separuh petani adalah petani kecil atau “gurem” yang hanya mengelola lahan di bawah 0,5 hektar. Sensus Pertanian 2023 menunjukkan ada puluhan juta petani pengguna lahan pertanian, dan petani gurem mencapai angka yang sangat besar—fenomena yang menegaskan betapa rapuhnya basis ekonomi keluarga tani.

 

Keempat, kesejahteraan petani sulit bertumbuh: indikator Nilai Tukar Petani (NTP) yang dipublikasikan BPS menunjukkan dinamika yang berfluktuasi dan sering kali tidak mencerminkan kenaikan pendapatan riil petani bila dibandingkan kenaikan biaya produksi. Ketika harga input (pupuk, benih, sewa alat) terus naik sementara harga yang diterima petani terkunci oleh struktur pasar, margin usaha tani menyusut—dan migrasi dari desa ke kota menjadi opsi rasional bagi banyak keluarga.

 

Kelima, data jangka panjang menegaskan tren mengkhawatirkan: observatorium isu agraria internasional dan catatan KPA menunjukkan ribuan konflik dan jutaan hektare sengketa selama dekade terakhir—menyasar masyarakat adat, petani kecil, dan komunitas pesisir—serta ribuan orang yang mengalami kriminalisasi dan kekerasan. Ini bukan sekadar “kesalahan administrasi”; ini pola dispossession yang diproduksi oleh kombinasi kebijakan pro-investor, kelembagaan lemah, dan praktik alih fungsi lahan.

 

Dari semua fakta ini lahir sebuah tuntutan sederhana namun radikal: membela petani bukan soal sentimentalitas nostalgik, melainkan kewajiban politik. Mengapa?

 

1. Kedaulatan pangan adalah masalah strategis. Negara yang mengabaikan petani pada akhirnya meminjam stabilitas makanannya dari pasar global—suatu kondisi yang rentan terhadap guncangan harga, geopolitik, dan gangguan rantai pasok. Keamanan pangan bukan pilihan konsumtif; ia masalah kedaulatan.

 

2. Keadilan distributif membutuhkan tindakan negara. Ketimpangan tanah dan kriminalisasi warga menunjukkan bahwa pasar tunggal tidak akan menyelesaikan masalah ini. Negara harus mengintervensi—melalui redistribusi, pengakuan hak ulayat, moratorium alih fungsi lahan, dan penegakan hukum yang tidak berat sebelah.

 

3. Ekologi dan kearifan lokal perlu dihormati. Pengetahuan petani tentang rotasi tanaman, konservasi air, dan praktik agroekologi adalah sumber daya publik yang tak ternilai. Menggantinya dengan industrialisasi monokultur demi keuntungan jangka pendek berisiko merusak basis produksi jangka panjang.

 

4. Itu soal demokrasi dan hak asasi. Kriminalisasi petani ketika mempertahankan tanahnya, sementara investor mendapat perlindungan hukum, menunjukkan bahwa hukum dipakai sebagai alat kekuasaan—bukan sebagai instrumen keadilan. Membela petani adalah membela prinsip equal protection dan rule of law yang sejati.

 

Jadi, bila Anda masih bertanya mengapa kita harus percaya petani—jawabannya sederhana: mereka adalah penopang kehidupan kolektif; data menunjukkan mereka sedang diserang; dan pembelaan terhadap mereka adalah investasi politik dan moral untuk masa depan bangsa. Memperjuangkan petani berarti menuntut kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan, redistribusi yang nyata, dan penegakan hukum yang menolak kriminalisasi korban.

 

Bukan hanya karena mereka kelihatan lemah; justru karena mereka adalah barometer keadilan sebuah negara. Jika petani terus tersisih, artinya kita sedang menyaksikan bagaimana negara melepaskan tanggung jawabnya—dengan konsekuensi pada pangan, budaya, dan demokrasi. Data sudah memperingatkan. Tindakanlah yang kini harus bicara.