![]() |
| Ilustrasi oleh: suara.com/Shutterstock |
Washington, Tinkap – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tengah melakukan investigasi intensif terhadap lonjakan infeksi parasit yang memicu wabah diare parah di seluruh negeri. Hingga Sabtu (4/7/2026), otoritas kesehatan melaporkan lebih dari 400 kasus infeksi cyclosporiasis yang tersebar di 18 negara bagian.
Parasit Cyclospora yang menjadi penyebab wabah ini
diketahui menyebar melalui konsumsi produk segar, seperti sayuran atau
buah-buahan mentah, serta air yang terkontaminasi tinja. Infeksi ini
menyebabkan gejala penyakit usus yang cukup menguras fisik, termasuk kram
perut, mual, kelelahan, demam ringan, hingga diare berair yang bersifat
"eksplosif."
Lonjakan Kasus
di Berbagai Negara Bagian
Data terbaru
menunjukkan bahwa negara bagian seperti New York, Texas, Illinois, dan Michigan
mencatat jumlah kasus terbanyak. Di Michigan, otoritas kesehatan setempat
tengah mengidentifikasi apa yang mereka sebut sebagai "wabah besar yang
terus berkembang." Sejak 22 Juni, lebih dari 300 kasus telah dilaporkan di
Michigan saja, angka yang jauh melampaui rata-rata tahunan mereka yang biasanya
hanya berkisar di angka 50 kasus.
Meskipun
gejalanya terlihat sangat mengganggu, pihak medis menekankan bahwa cyclosporiasis
umumnya tidak bersifat fatal. Dari 145 kasus awal yang dipantau CDC sejak 1 Mei
hingga 16 Juni, sebanyak 20 orang dilaporkan harus menjalani perawatan intensif
di rumah sakit, namun hingga kini belum ada laporan kematian terkait wabah ini.
Peringatan
Ahli Terkait Risiko Makanan
Pakar
mikrobiologi dan patologi dari Houston Methodist, Dr. Wesley Long, menjelaskan
bahwa sifat parasit ini yang sulit dideteksi menjadi tantangan bagi tim
investigasi.
"Satu alasan
mengapa penyelidikan Cyclospora sering kali memakan waktu lama adalah
karena adanya jeda waktu. Orang sering tidak merasa sakit hingga satu sampai
dua minggu setelah terpapar. Pada saat itu, sulit bagi mereka untuk mengingat
setiap salad, hiasan makanan, smoothie, atau makanan restoran yang mereka
konsumsi," ujar Dr. Long sebagaimana dikutip dari laporan Click2Houston,
Sabtu (4/7).
Dr. Long
menambahkan bahwa Cyclospora memiliki resistensi terhadap pembersih
berbasis klorin yang umum digunakan dalam pemrosesan produk segar di pabrik.
"Itu berarti produk yang terkontaminasi terkadang masih bisa sampai ke rak
toko atau dapur restoran meskipun telah melalui prosedur pembersihan
rutin," tambahnya.
CDC terus mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan makanan dan segera menghubungi penyedia layanan kesehatan jika mengalami diare berkepanjangan. Saat ini, tim investigasi gabungan masih terus berupaya melacak klaster penyebaran untuk menentukan sumber utama kontaminasi pangan yang diduga terdistribusi secara luas ke berbagai wilayah tersebut.

