Defile HUT Bhayangkara: Ketika Cipayung Plus dan BEM Berbaris di Balik Seragam

Dengarkan Artikel Putar audio pembaca teks
Gambar oleh: patakaeja.id

 

JAKARTA, TINKAP – Perayaan HUT ke-80 Bhayangkara pada 1 Juli lalu diwarnai pemandangan yang memantik diskusi hangat di kalangan aktivis dan pengamat politik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, defile pasukan dalam upacara resmi Polri tidak hanya diikuti oleh anggota kepolisian dan militer, tetapi juga melibatkan "Batalyon Gabungan" yang terdiri dari kelompok Cipayung Plus dan sejumlah perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

 

Kehadiran barisan mahasiswa di tengah formasi defile kepolisian ini diklaim oleh pihak penyelenggara sebagai simbol sinergitas antara Polri dan elemen sipil. Namun, langkah ini justru memicu kritik tajam mengenai independensi gerakan mahasiswa yang seharusnya menjadi penyeimbang kekuasaan.

 

Sinergi atau Kooptasi?


Dalam prosesi tersebut, para mahasiswa tampak mengenakan almamater masing-masing seraya melakukan penghormatan kepada pimpinan Polri. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, menyebut keterlibatan ini adalah bukti bahwa Polri adalah milik masyarakat.

 

"Ini adalah bentuk apresiasi kami terhadap adik-adik mahasiswa sebagai mitra strategis dalam menjaga kondusifitas nasional. Sinergi ini diharapkan dapat menepis jarak antara aparat dan kaum intelektual," ujar Kombes Pol Ade Ary sebagaimana dikutip dari laporan Kompas.com, Rabu (1/7/2026).

 

Cipayung yang Kehilangan Marwah Perlawanan, Plus Arah Juang


Keterlibatan aktif kelompok mahasiswa dalam barisan defile aparat memicu reaksi keras dari para aktivis senior. Pengamat sosial politik dari Universitas Indonesia, Dr. Benny Sukma, menilai fenomena ini sebagai bentuk "kooptasi struktural" yang berbahaya bagi demokrasi.

 

"Mahasiswa itu watchdog (anjing penjaga) kekuasaan. Ketika mereka masuk ke dalam barisan defile polisi, artinya mereka telah menanggalkan fungsi kritisnya dan memilih menjadi instrumen pendukung status quo. Ini adalah degradasi marwah gerakan mahasiswa yang sangat memprihatinkan," tegas Dr. Benny dalam sebuah diskusi yang dilansir oleh Tempo.co, Sabtu (4/7/2026).

 

Lebih jauh, kritikan muncul karena rekam jejak Polri dalam setahun terakhir yang kerap bergesekan dengan mahasiswa dalam isu demonstrasi penolakan kebijakan publik. Kehadiran mereka di perayaan tersebut dinilai sebagai bentuk "normalisasi" atas represi yang selama ini terjadi di lapangan.

 

"Logikanya sederhana: bagaimana mungkin mahasiswa bisa mengkritisi kebijakan kepolisian jika mereka sudah berbaris di belakang seragam kepolisian dalam sebuah defile? Ada standar ganda yang dipertontonkan di sini," tambah Dr. Benny.

 

Salah Arah Independensi Cipayung Plus


Kelompok Cipayung Plus, yang selama ini dikenal sebagai wadah bagi organisasi-organisasi besar seperti HMI, PMII, GMNI, GMKI, dan PMKRI, tampak terbelah dalam menanggapi partisipasi ini. Sebagian menganggapnya sebagai langkah diplomasi, sementara yang lain melihatnya sebagai blunder fatal yang mencederai kepercayaan publik terhadap independensi organisasi mahasiswa.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi gabungan dari presidium Cipayung Plus terkait kritik yang menyebut mereka telah "dijinakkan" oleh penguasa.

 

Bagi publik, pemandangan ini menjadi pengingat bahwa batas antara kemitraan dan ketundukan sangatlah tipis. Ketika mahasiswa lebih memilih berada di dalam barisan defile ketimbang di barisan pengkritik, maka peran mereka sebagai suara hati nurani rakyat layak dipertanyakan.


Pewarta: Tim Tinkap
Penulis: Tim Tinkap
Editor: Tim Redaksi Tinkap
© Tinkap - Polri

tk