![]() |
| Gambar oleh: bbc.com/indonesia |
Teheran, Tinkap– Suasana duka menyelimuti ibu kota Iran, Teheran. Prosesi penghormatan terakhir bagi mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai pada Sabtu (4/7/2026). Otoritas Iran memperkirakan sebanyak 20 juta pelayat akan memadati rangkaian upacara pemakaman yang berlangsung hingga 9 Juli mendatang.
Peti jenazah
Khamenei yang ditempatkan dalam kotak kaca dipamerkan di kompleks keagamaan
Grand Mosalla. Sejak Jumat (3/7) malam, ribuan pendukung Republik Islam Iran
dilaporkan telah memadati area luar kompleks tersebut, rela menunggu berjam-jam
di bawah pengamanan ketat demi memberikan penghormatan terakhir.
Salah seorang
pelayat, Somayye Hamedi, mengungkapkan dedikasi mendalam para pendukung
Khamenei di tengah suasana duka yang mendalam.
"Kami ingin
mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada pemimpin kami. Karena itu, menunggu
seperti ini tidak terasa menyakitkan atau sulit bagi kami," ujar Somayye
sebagaimana dikutip dari laporan AFP, Sabtu (4/7).
Sorotan Diplomatik dan Misteri Suksesi
Upacara ini tidak
hanya dihadiri oleh masyarakat umum, tetapi juga menjadi ajang kehadiran para
delegasi internasional dan tokoh penting dunia. Sejumlah tamu negara yang
dilaporkan hadir antara lain Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta
mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang hadir mewakili Presiden Vladimir
Putin. Selain itu, delegasi dari Hamas, Hizbullah, dan pemerintahan Taliban
Afghanistan juga terlihat hadir dalam prosesi tersebut.
Di balik
kemegahan pemakaman akbar ini, perhatian publik Iran juga tertuju pada sosok
Mojtaba Khamenei. Meski telah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru
menggantikan ayahnya, Mojtaba hingga saat ini belum menampakkan diri di hadapan
publik dan sejauh ini hanya memberikan pernyataan tertulis.
Ketegangan yang Membayangi
Prosesi ini
berlangsung di tengah dinamika geopolitik yang kompleks setelah konflik
bersenjata yang pecah beberapa bulan lalu. Sebagaimana dilansir oleh CNN
Indonesia, pengamanan di sekitar lokasi sangat diperketat sebagai
antisipasi terhadap potensi ancaman.
Semangat
perlawanan pun tetap membara di kalangan para pelayat. Di lokasi pemakaman,
massa terdengar meneriakkan slogan-slogan bernada balas dendam. Salah satu
warga, Jafar Javadi, mengungkapkan kepada PBS bahwa kepalan tangan yang
diilustrasikan dalam berbagai spanduk di seluruh kota adalah simbol keteguhan.
"Pemimpin
kami adalah tanda bahwa kepalan tangan kami semua terkepal, dan mereka (para
musuh) akan hancur dengan kepalan tangan ini, Insya Allah," tutur Jafar.
Rangkaian prosesi pemakaman ini dijadwalkan akan membawa jenazah Ayatollah Ali Khamenei ke berbagai kota di Iran dan negara tetangga, Irak, dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari penghormatan kenegaraan terbesar dalam sejarah negara tersebut.(*)

