Lingkungan Kerja Berisiko Tinggi: Mengapa Profesi Tertentu Lebih Rentan Terhadap Kanker Ovarium?

Dengarkan Artikel Putar audio pembaca teks
Gambar oleh: publika.id


JAKARTA, TINKAP – Sebuah studi terbaru mengungkap temuan mengkhawatirkan mengenai kaitan antara lingkungan kerja dengan peningkatan risiko kanker ovarium. Paparan bahan kimia berbahaya di tempat kerja disinyalir menjadi faktor pemicu utama yang sering kali tidak disadari oleh para pekerja perempuan.

 

Profesi dengan Risiko Tertinggi

 

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa pekerja di sektor-sektor tertentu memiliki risiko lebih tinggi terpapar zat karsinogenik. Beberapa profesi yang diidentifikasi paling rentan meliputi:

  • Pekerja Industri Kosmetik dan Tata Rias: Paparan terus-menerus terhadap bahan kimia dalam produk perawatan pribadi disinyalir meningkatkan risiko.
  • Pekerja di Sektor Manufaktur Plastik dan Tekstil: Paparan zat kimia seperti phthalates dan talc yang sering digunakan dalam proses produksi menjadi perhatian utama.
  • Petugas Kebersihan dan Layanan Pemeliharaan: Penggunaan bahan kimia pembersih industri dalam jangka panjang tanpa perlindungan diri yang memadai juga berkontribusi pada risiko ini.

 

Penjelasan Medis dan Paparan Bahan Kimia

 

Kanker ovarium sering kali sulit dideteksi sejak dini, sehingga pemahaman mengenai faktor risiko eksternal menjadi krusial. Bahan-bahan kimia yang bersifat pengganggu endokrin di lingkungan kerja dapat merusak keseimbangan hormon dan memicu pertumbuhan sel abnormal pada ovarium.

 

Pakar onkologi dari Rumah Sakit Kanker Nasional, dr. Siti Aminah, Sp.OG(K), menegaskan bahwa paparan jangka panjang terhadap karsinogen di lingkungan kerja tidak boleh disepelekan.

 

"Banyak pekerja perempuan tidak menyadari bahwa bahan kimia yang mereka hirup atau terpapar melalui kulit setiap hari di tempat kerja memiliki sifat karsinogenik. Akumulasi paparan ini, meskipun dalam dosis rendah, bisa berdampak serius pada kesehatan reproduksi dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun ke depan," ujar dr. Siti Aminah sebagaimana dikutip dari Tempo.co, Jumat (10/7/2026).

 

Langkah Mitigasi bagi Pekerja

 

Menanggapi temuan ini, para ahli kesehatan kerja mendesak pemberi kerja untuk memperketat standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar serta ventilasi ruangan yang memadai menjadi syarat mutlak untuk menekan risiko paparan.

 

Di sisi lain, Direktur Occupational Health Institute, Dr. Budiarto, menyoroti pentingnya edukasi bagi pekerja perempuan.

 

"Penting bagi setiap perusahaan untuk melakukan audit bahan kimia yang digunakan di tempat kerja. Pekerja harus memiliki akses informasi mengenai MSDS (Material Safety Data Sheet) dari setiap produk yang mereka tangani agar mereka tahu potensi bahayanya dan bisa melakukan langkah preventif yang benar," tegas Dr. Budiarto sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Jumat (10/7/2026).

 

Hingga saat ini, kesadaran akan bahaya lingkungan kerja terhadap kesehatan reproduksi perempuan masih perlu ditingkatkan. Langkah preventif melalui pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja di sektor berisiko tinggi sangat dianjurkan untuk mendeteksi potensi penyakit sejak dini.


Pewarta: Tim Tinkap
Penulis: Tim Tinkap
Editor: Tim Redaksi Tinkap
© Tinkap - Kesehatan

tk