![]() |
| Gambar oleh: movies.disney.com |
Dunia perfilman kembali dihebohkan dengan dirilisnya versi live-action dari animasi klasik Disney, Moana (2026). Disutradarai oleh Thomas Kail, film ini membawa kembali kisah perjalanan epik Moana melintasi samudra. Meski menampilkan produksi visual yang memukau dan jajaran pemain baru yang segar, film ini menghadapi kritik tajam mengenai relevansi dan "jiwa" dari penceritaannya.
Sinopsis
Singkat
Film ini
mengikuti alur yang hampir sama dengan versi animasinya tahun 2016. Moana
(diperankan oleh Catherine Laga'aia) adalah seorang gadis muda pemberani dari
pulau Motunui yang merasa terpanggil oleh samudra. Untuk menyelamatkan pulaunya
dari kutukan kuno, ia harus melakukan perjalanan berbahaya untuk menemukan Maui
(Dwayne Johnson), sang dewa setengah manusia, dan mengembalikan hati Te Fiti ke
tempat asalnya.
1. Penampilan Pemain: Antara Harapan dan Realita
Catherine
Laga'aia memberikan performa yang hangat dan vokal yang memukau sebagai Moana.
Ia mampu menghadirkan energi yang tulus, yang menjadi penyelamat bagi banyak
adegan. Namun, banyak kritikus menyoroti penampilan Dwayne Johnson.
Meskipun ia kembali memerankan Maui—karakter yang ia isi suaranya di versi
animasi—penampilannya di versi live-action ini dianggap terasa kurang
bertenaga. Banyak yang merasa bahwa pesona Maui justru lebih terpancar melalui
ekspresi berlebihan yang hanya bisa dicapai lewat animasi, bukan melalui akting
fisik Johnson yang terlihat "berjalan di tempat" atau auto-pilot.
2. Visual yang
Memanjakan Mata vs. Efek yang Terasa "Buatan"
Secara teknis,
sinematografi film ini sangat luar biasa. Penggambaran samudra, pulau-pulau
Polinesia, dan detail desain produksi memang memanjakan mata. Namun, tantangan
muncul saat film ini mencoba mencampurkan aktor manusia dengan elemen CGI yang
sangat dominan. Karakter seperti Heihei (ayam peliharaan) atau lava monster Te
Kā terasa asing dan "datar" ketika ditempatkan di dunia yang mencoba
terlihat nyata, membuat film ini sering kali terasa seperti video gim
beresolusi tinggi alih-alih sebuah film live-action organik.
3. Masalah
Relevansi: Mengapa Dibuat Ulang?
Salah satu kritik
terbesar yang ditujukan pada film ini adalah urgensinya. Mengingat film
animasinya baru berusia satu dekade dan sekuel animasinya (Moana 2) baru
dirilis tahun 2024, banyak penonton merasa bahwa remake ini terasa
sangat dipaksakan oleh kepentingan korporat. Film ini sering kali terasa
seperti salinan "shot-by-shot" yang kehilangan percikan ajaib,
kecerdasan, dan kedalaman emosional yang membuat versi 2016 begitu dicintai.
Moana (2026) adalah sebuah tontonan yang
menghibur jika Anda belum pernah menyaksikan versi animasinya. Musik-musik
ikonik Lin-Manuel Miranda tetap menjadi daya tarik utama yang mampu memberikan
kesenangan instan. Namun, bagi para penggemar setia, film ini mungkin akan
terasa seperti kemasan ulang yang cantik namun hambar. Kehadiran Dwayne Johnson
yang kurang memberikan dimensi baru pada karakter Maui menjadikannya salah satu
titik lemah dalam upaya Disney untuk menghidupkan kembali kisah ini.
Nilai Akhir:
2.5/5
Apakah Anda
sudah menonton film ini dan merasa skeptis dengan tren Disney melakukan remake
live-action, atau Anda justru penasaran untuk melihat bagaimana mereka
menerjemahkan lagu-lagu ikoniknya ke format nyata?

