Sekolah Jadi Ruang Aman: Mendorong Edukasi dan Strategi Pencegahan Bullying

Dengarkan Artikel Putar audio pembaca teks
Gambar oleh: scientificamerican.com


Jakarta, Tinkap – Maraknya kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan dalam beberapa tahun terakhir menjadi alarm keras bagi ekosistem sekolah di Indonesia. Fenomena yang sering kali dianggap sebagai "kenakalan remaja biasa" ini kini diakui sebagai masalah sistemik yang membutuhkan pendekatan edukasi komprehensif, bukan sekadar pemberian sanksi.


Pakar psikologi pendidikan, Dr. Retno Wijayanti, menekankan bahwa kunci utama pencegahan bullying terletak pada pembentukan empati sejak dini. Menurutnya, sekolah tidak boleh hanya berfokus pada nilai akademis, melainkan harus membangun budaya "peduli sesama" sebagai kurikulum tersembunyi.


"Strategi pencegahan yang paling efektif bukanlah dengan mengawasi setiap gerak-gerik siswa melalui CCTV, melainkan dengan membangun sistem di mana setiap anak merasa berani untuk bersuara ketika melihat ketidakadilan. Budaya bystander atau penonton yang pasif harus diubah menjadi upstander yang berani bertindak," ujar Dr. Retno sebagaimana dikutip dari laporan Kompas.com, Minggu (5/7/2026).


Peran Krusial Guru dan Orang Tua


Data dari survei kesejahteraan siswa sering kali menunjukkan bahwa korban bullying merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungan sekolahnya. Oleh karena itu, penguatan kapasitas guru dalam mengenali tanda-tanda awal perundungan, baik fisik maupun verbal, menjadi sangat krusial.


Sebagaimana dilansir oleh Antara News, Kementerian Pendidikan terus mendorong penerapan program "Sekolah Ramah Anak". Dalam program tersebut, guru dilatih untuk menjadi mediator konflik yang adil, sementara orang tua didorong untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi indikator mereka sedang mengalami perundungan.


"Tanda-tanda seperti anak yang mendadak enggan ke sekolah, penurunan prestasi akademik yang drastis, hingga perubahan suasana hati yang ekstrem, adalah peringatan dini yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua di rumah," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak, sebagaimana dikutip dari Antara News.


Mengintegrasikan Edukasi Karakter


Selain deteksi dini, edukasi karakter di kelas menjadi garis pertahanan pertama. Sekolah-sekolah kini mulai mengadopsi metode diskusi terbuka untuk membahas dampak psikologis jangka panjang dari bullying. Langkah ini bertujuan agar pelaku memahami konsekuensi perbuatannya, sementara korban merasa memiliki tempat yang aman untuk melapor tanpa takut akan stigma.


Para ahli menyepakati bahwa sinergi antara kebijakan sekolah yang tegas, keterlibatan aktif orang tua, dan ruang komunikasi yang terbuka bagi siswa adalah fondasi utama untuk memutus rantai kekerasan di institusi pendidikan.


Pewarta: Tim Tinkap
Penulis: Tim Tinkap
Editor: Tim Redaksi Tinkap
© Tinkap - Edukasi

tk